SAMBUTAN DARI BAPAK LILI RAMLI

Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Inilah Website Resmi Bapak Lili Ramli sebagai wadah untuk menularkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, khususnya Materi Bahasa Indonesia, TIK, dan Materi Umum Lainnya.
Mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Tampilkan postingan dengan label PAI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PAI. Tampilkan semua postingan

Antara Adab dan Ilmu, Mana yang harus didahulukan

Adab adalah sesuatu yang harus lebih didahulukan daripada ilmu. 

Apa yang dimaksudkan dengan adab?

 

Adab secara bahasa artinya menerapkan akhlak mulia. Dalam Fathul Bari, Ibnu Hajar menyebutkan:

 

‎وَالْأَدَبُ اسْتِعْمَالُ مَا يُحْمَدُ قَوْلًا وَفِعْلًا وَعَبَّرَ بَعْضُهُمْ عَنْهُ بِأَنَّهُ الْأَخْذُ بِمَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ

“Al adab artinya menerapkan segala yang dipuji oleh orang, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Sebagian ulama juga mendefinisikan, adab adalah menerapkan akhlak-akhlak yang mulia” (Fathul Bari, 10/400).

 

Jadi arti adab secara keseluruhan yaitu segala bentuk sikap, perilaku atau tata cara hidup yang mencerminkan nilai sopan santun, kehalusan, kebaikan, budi pekerti atau akhlak.

 

Untuk mempelajari adab dibutuhkan waktu yang tak sebentar. Dalam kajian Ustadz Budi Ashari, Lc, menyampaikan betapa pentingnya adab dahulu baru ilmu.

 

Kenapa sampai para ulama agama pun mendahulukan mempelajari adab? 

Sebagaimana Yusuf bin Al Husain berkata,

 

بالأدب تفهم العلم

“Dengan mempelajari adab, maka engkau jadi mudah memahami ilmu.”

 

Sebab, kepintaran tidak ada artinya apabila seseorang tidak memiliki adab (etika). Ilmu menjadi berbahaya bagi pemiliknya dan orang lain karena tidak dihiasi akhlak.

 

Bahkan mungkin kita juga sering mendengar,

“Ilmu tanpa adab seperti api tanpa kayu bakar, dan adab tanpa ilmu seperti jasad tanpa ruh” (Adabul Imla’ wal Istimla’ [2], dinukil dari Min Washaya Al Ulama liThalabatil Ilmi [10]).

 

Begitu pentingnya adab hingga Allah swt. menempatkanya sebagai hal yang paling utama. Sebab, kepintaran pun tidak ada artinya apabila seseorang tidak memiliki adab. 

Ilmu bisa saja menjadi berbahaya bagi pemiliknya dan orang lain karena tidak didampingi dengan adab.

 

Kita juga harus memahami peran penting menanamkan adab pada proses pengembangan karakter peserta didik yang baik, karena di era saat ini adab dan karakter mulai pudar oleh perkembangan zaman. Banyak peserta didik yang mengabaikan betapa pentingnya adab dan karakter dalam dunia pendidikan.

 

Mengutip dari buku Antologi Hadist Tarbawi oleh Tejo Waskito, adab sangat diperlukan dalam dunia pendidikan terutama bagi peserta didik, agar ia mampu memahami, menerapkan dan mengimplementasikan hal positif dan menjadi pribadi yang baik. Ibnu al-Mubarak ra.menyatakan:

 

“Mempunyai adab (kebaikan budi pekerti) meskipun sedikit adalah lebih kami butuhkan daripada (memiliki) banyak ilmu pengetahuan”.

 

Dari pernyataan Ibnu Mubarak di atas kita bisa menyimpulkan bahwasanya mempunyai sedikit adab itu lebih penting dan dibutuhkan daripada mempunyai banyak ilmu pengetahuan. Karena orang yang berilmu belum tentu beradab, tetapi jika orang yang memiliki adab sudah pasti berilmu. Dan tingkatan adab lebih tinggi dari ilmu.



Sumber : https://alazharasysyarifsumut.sch.id/antara-adab-dan-ilmu-mana-yang-harus-di-dahulukan/#:~:text=Dari%20pernyataan%20Ibnu%20Mubarak%20di,adab%20lebih%20tinggi%20dari%20ilmu.

Belajar Tajwid dengan Mudah

DOWNLOAD SOFTWARE APLIKASI BELAJAR TAJWID

Salah satu amalan istimewa di bulan ramadhan adalah membaca kitab suci Al-Qur'an. Nah, untuk membaca Al-Qur'an dengan baik memang diperlukan ilmu. Jadi tidak hanya sekedar baca, selesai. Ilmu untuk membaca, menelaah, memahami, dan mengamalkannya di kehidupan sehari-hari.

Membaca Al-Qur'an rasanya tidak lengkap tanpa mempelajari cara membacanya. Ilmu membacanya biasa disebut dengan ilmu Tajwid. Tajwid ini sangat penting bagi kita sebagai seorang muslim, karena kita diperintahkan Allah SWT untuk membaca Al-Qur'an dengan baik dan benar (tartil).

Tajwid berasal dari bahasa arab yang artinya adalah membaguskan. Jadi bisa disimpulkan bahwa tajwid adalah ilmu yang mempelacari cara membaca Al-Quran dengan bagus sesuai dengan tuntunan dan ajaran yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW.

Ada banyak jalan untuk belajar ilmu tajwid. Mereka yang mengenyam pendidikan agama sejak kecil seperti lulusan Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah hingga Madrasah Aliyah tentunya pernah mendapatkan pelajaran ilmu Tajwid. Hehe... Bagi yang mendapat pendidikan di lembaga pendidikan umum bisa belajar di masjid-masjid lewat guru atau ustadz yang berpengalaman.

Nah, kali ini saya akan membagikan software yang saya tidak dapat memastikan darimana software ini berasal. Karena saya dulu mendapatkan software ini dari yayangku. Dan didalamnya tidak ada keterangan copyright dari siapa.

Dan kemudian saya mencoba menelusuri di google dan jika dirunut lagi, software ini (insyaallah) berasal dari blog mas Rosyidi. Untuk yang PDF saya kurang tahu pasti....

Berikut ini adalah software belajar praktis ilmu tajwid. Ada tiga buah file. EXE dan SWF adalah file flash untuk belajar tajwid. Dengan file exe kita bisa mainkan dengan double klik file tersebut dan voila.. dia akan muncul... Namun untuk file SWF anda bisa memainkannya di browser anda (internet explorer, mozilla firefox, opera, dll). Sementara untuk file PDF bisa anda cetak dengan printer di sebuah kertas kemudian dibaca, atau bisa dibaca lewat PDF viewer, seperti Adobe Acrobat PDF Reader.


Silahkan download, dinikmati dan belajar tajwid! Semoga bermanfat!

Attachment: TAJWID.EXE
Attachment: TAJWID.pdf
Attachment: Tajwid.swf

Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1430 H.

Segenap Keluarga Bapak Lili Ramli, S.Pd.I. mengucapkan :
Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1430 H.
Mohon Maaf Lahir dan Batin

Keistimewaan dan Amalan di Bulan Ramadhan

Sesungguhnya bulan Ramadhan juga disebut sebagai bulan ibadat bagi umat Islam. Ini diperkuatkan dengan terdapat banyak hadis yang menyebut tentang keutamaan dan keistimewaan beramal di bulan Ramadhan ini. Antaranya ialah:

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, Bahawa Rasulullah s.a.w pernah bersabda: “Ketika datang bulan Ramadhan: sesungguhnya telah datang kepadamu bulan yang penuh berkat, diwajibkan ke atas kamu untuk berpuasa, dalam bulan ini pintu Jannah dibuka, pintu Neraka ditutup, syaitan-syaitan dibelenggu. Dalam bulan ini ada suatu malam yang nilainya sama dengan seribu bulan, maka diharamkan kebaikannya bagi siapa yang tidak beramal baik di dalamnya, sesungguhnya tidak mendapat kebaikan di bulan lain seperti di bulan ini”.

(Hadis riwayat Ahmad, Nasai dan Baihaqi)

Dari Abi Hurairah r.a, sesungguhnya Nabi s.a.w telah bersabda: “Solat lima waktu, solat Jumaat sampai solat Jumaat berikutnya, puasa Ramadhan sampai puasa Ramadhan berikutnya, adalah menutup dosa-dosa (kecil) yang diperbuat di antara keduanya, bila dosa-dosa besar dijauhi”.

(Hadis riwayat Muslim)

Dari Abdullah bin Amru, bahawa sesungguhnya Nabi s.a.w telah bersabda: “Puasa dan Al-Quran itu memintakan syafaat bagi seseorang hamba di hari kiamat. Puasa berkata: Wahai Tuhanku, aku telah mencegah dia memakan makanan dan menyalurkan syahwatnya di siang hari, maka berilah aku hak untuk memintakan syafaat baginya. Dan berkata pula al-Quran: Wahai Rabbku aku telah mencegah dia tidur di malam hari (kerana membacaku), maka berilah aku hak untuk memintakan syafaat baginya. Maka keduanya diberi hak untuk memintakan syafaat”.

(Hadis riwayat Ahmad)

Dari Sahal bin Sa’ad, sesungguhnya Nabi s.a.w telah bersabda: “Bahawa sesungguhnya bagi Jannah itu ada sebuah pintu yang disebut “Rayyaan”. Pada hari kiamat dikatakan: Di mana orang yang berpuasa? (untuk masuk jannah melalui pintu itu), jika yang terakhir antara mereka sudah memasuki pintu itu, maka ditutuplah pintu itu”.

(Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)

Rasulullah s.a.w bersabda: “Barangsiapa puasa Ramadhan kerana beriman dan ikhlas, maka diampuni dosanya yang telah lalu dan yang sekarang”.

(Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)

Dari Jabir r.a bahawa Nabi s.a.w bersabda: “Puasa itu perisai yang dipergunakan seorang hamba untuk membentengi dirinya dari siksaan neraka”.

(Hadis Riwayat Ahmad)
Sebagai kesimpulan daripada kesemua hadis di atas, dapatlah dikatakan bahawa ia memberi pengajaran kepada kita tentang keutamaan dan keistimewaan bulan Ramadhan serta keistimewaan beramal di dalamnya bagi mereka yang ikhlas untuk mencari keredhaan Allah S.W.T. Di antaranya ialah:

>Keistimewaan Bulan Ramadhan
>Bulan yang penuh Barakah
>Pada bulan ini pintu Jannah di buka dan pintu Neraka ditutup
>Pada bulan ini syaitan-syaitan dibelenggu
>Dalam bulan ini ada suatu malam yang keberkatan beramal di dalamnya adalah lebih baik dari beramal selama seribu bulan, iaitu Malam Al-Qadar.
>Pada bulan ini juga setiap hari akan ada malaikat yang menyeru dan menasihati umat Islam supaya berbuat baik dan menjauhi perkara maksiat
Keistimewaan beramal di bulan Ramadhan
>Amal itu dapat menutup dosa-dosa kecil antara Ramadhan ini sehingga bertemu Ramadhan berikutnya
>Menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan memintakan syafaat daripada amalan membaca al-Quran dan puasa itu sendiri dan perisai siksaan neraka
>Bagi orang yang berpuasa disediakan pintu khusus baginya untuk memasuki Jannah yaitu yang dinamakan “Rayyaan”
Ihsan Mimbar Ulama

Amalan di Bulan Ramadhan Bag. 2

Oleh
Kholid bin Abdullah Al-Hamudiy
Saudaraku muslim dan muslimah…
Assalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu

Kami sampaikan risalah ini kepada anda dengan penuh kerinduan dan penghormatan. Kami sampaikan risalah ini dari lubuk hati kami yang paling dalam, disertai luapan rasa cinta kami kepada anda kerana Allah. Kita mohon kepada Allah yang Maha Perkasa agar Dia mempertemukan kami dan anda kelak di Syurga-Nya yang penuh dengan kenikmatan dan rahmat.

Saudaraku muslim dan muslimah…
Sehubungan dengan akan datangnya bulan Ramadhan, kami sampaikan sebuah nasihat sebagai sebuah hadiah yang berharga. Kami tidaklah membuat sesuatu yang baru dalam nasihat ini, melainkan sebagai suatu pengingatan yang insya Allah akan bermanfaat untuk orang-orang yang beriman. Kami harap, semoga Anda berkenan menerimanya dengan lapang dada dan mendoakan kita semua agar senantiasa dijaga, dibimbing oleh Allah Yang Maha Kuasa di jalan yang diredhai-Nya.

Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengkhususkan bulan Ramadhan dari bulan-bulan yang lainnya. Diantara kekhususan dan keutamaan Ramadhan antara lain:

(1). Bau mulut orang yang berpuasa, lebih harum di sisi Allah, daripada minyak wangi kasturi.

(2). Para malaikat senantiasa mendoakan ampunan bagi orang yang berpuasa sampai dia berbuka puasa.

(3). Dibukanya pintu-pintu syurga dan ditutupnya pintu-pintu neraka.

(4). Terdapat Lailatul Qadar, yaitu suatu malam yang lebih baik dari pada seribu bulan

(5). Terdapat ampunan bagi orang yang berpuasa

(6). Diikatnya syaithan

Saudaraku muslim dan muslimah…
Bagaimanakah kita menyambut bulan Ramadhan yang penuh dengan kekhususan dan keutamaan ini? Apakah disambut dengan perbuatan yang sia-sia? Berjaga semalaman? Berfoya-foya? Naudzu billahi min dzalika.

Sesungguhnya hamba yang soleh akan menyambut kehadiran bulan Ramadhan ini dengan taubat yang murni kepada Allah, meminta ampunan kepada Allah dan bertekad kuat dan jujur, serta berupaya meningkatkan amal soleh dengan tetap mengharap pertolongan Allah agar Dia memudahkan kita untuk beribadah kepada-Nya.

Saudaraku muslim dan muslimah…
Berikut ini adalah beberapa amal soleh yang wajib dikerjakan atau sangat dianjurkan dilakukan:

(1). BERPUASA
Dalam sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

”Ertinya : Setiap amal manusia adalah untuk dirinya, satu perbuatan baik akan dibalas dengan sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus kali ganda, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk Aku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Orang yang berpuasa meninggalkan nafsu syahwatnya, makanannya, minumannya untuk Aku. Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagian, yaitu kebahagian saat berbuka puasa dan kebahagiaan saat berjumpa dengan Tuhannya. Sungguh bau mulut orang yang sedang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah daripada harumnya minyak wangi kasturi.”

Rasulullah Salallahu alaihi wa sallam bersabda.
”Ertinya : Barang siapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan berharap pahala Allah, maka diampuni dosa-dosanya di masa lalu.” (Hadits Riwayat Imam Bukhori dan Imam Muslim)

Saudaraku muslim dan muslimah…
Tidak diragukan lagi bahawa balasan yang sangat agung tersebut tidaklah diberikan kepada orang yang sekadar meninggalkan makanan atau minuman saja! Akan tetapi hanya sebagaimana sabda Nabi Muhammad Salallahu alaihi wa sallam :

”Ertinya : Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan keji serta amal perbuatan keji, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak memerlukan puasanya yang sekadar meninggalkan makanan dan minuman” (Hadits Riwayat Imam Bukhori)

Rasulullah Salallahu alaihi wa sallam bersabda.
”Ertinya : Puasa itu perisai, maka apabila seseorang berpuasa, hendaklah dia tidak berbuat lucah (perbuatan yang menjurus kepada hubungan seksual), tidak berbuat kefasikan, tidak berbuat suatu kebodohan. Apabila seseorang mencaci makinya, hendaklah dia mengatakan: Saya sedang berpuasa!” (Hadits Riwayat Imam Bukhori dan Imam Muslim)

Saudaraku muslim dan muslimah…
Bila Anda berpuasa, maka hendaknya puasa pula pendengaran, penglihatan dan lisan Anda, serta berpuasalah juga seluruh anggota tubuh Anda! Janganlah keadaan Anda saat berpuasa sama dengan keadaan Anda ketika tidak berpuasa!

(2). QIYAMU RAMADHAN YAITU SHALAT TARAWIH
Rasulullah Salallahu alaihi wa sallam bersabda :
”Ertinya : Barang siapa yang mendirikan Qiyamu Ramadhan dengan penuh keimanan dan berharap pahala Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” ( Hadits Riwayat Imam Bukhori dan Imam Muslim)

Ada sebuah peringatan penting, yaitu hendaknya kita menyempurnakan solat tarawih berjama’ah di masjid bersama imam solat, agar kita dicatat sebagai orang-orang yang mendirikan qiyamu Ramadhan, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Salallahu alaihi wa sallam :

”Ertinya : Barang siapa yang mendirikan qiyamu Ramadhan bersama Imamnya sampai selesai, maka dicatat baginya pahala Qiyamu Ramadhan semalam penuh’ ( Hadits Riwayat Ahlus Sunan)

(3). BERSEDEKAH
Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan. Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam bersabda:

”Ertiya : Seutama-utama sedekah adalah sedekah di bulan Ramadhan” (Hadits Riwayat Tirmidzi).

Diantara bentuk-bentuk sedekah di bulan Ramadhan adalah:

(a). Memberi makanan
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
”Ertinya : Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keredhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan. Maka Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. Dan dia memberi balasan kepada mereka Kerana kesabaran mereka (dengan) syurga dan (pakaian) sutera”. (Al-Insan : 8 – 12)

Sesungguhnya salafus soleh (generasi pendahulu umat Islam yang soleh) amat bersemangat untuk memberikan makanan baik kepada yang memerlukan atau kepada teman yang soleh, melebihi semangat menjalankan amal yang lainnya.

Rasulullah Salallahu alaihi wa sallam bersabda:
”Ertinya : Seorang mukmin yang memberikan mukmin yang lapar maka kelak Allah akan memberi makan kepadanya daripada buah-buahan syurga, dan barang siapa yang memberi minum seorang mukmin, maka kelak Allah akan memberi air minum dari syurga” (Hadit Hasan Riwayat Tirmidzi).

Sebahagian salafus soleh ada yang memberikan makanan kepada saudara-saudaranya kaum muslimin, padahal dia sendiri berpuasa, mereka tidak sekadar memberi makanan, tetapi juga turut duduk sambil berkhidmat (melayani) keperluan mereka.

(b). Memberi Makan Orang Berbuka Puasa
Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam bersabda:
”Ertinya : Barang siapa yang memberi makan orang yang berbuka puasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang berpuasa tadi.” (Hadits Riwayat Imam Ahmad, An Nasa’i dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah)

(4). BERSUNGGUH-SUNGGUH DALAM MEMBACA AL-QUR’AN AL-KARIM, MEMPELAJARI TAFSIRNYA DAN MEMAHAMINYA

Saudaraku muslim dan muslimah…
Bersungguh-sungguhlah dalam membaca Al Qur’an Al- Karim. Bacalah dengan penuh tadabur dan kekhusyuan. Sesungguhnya salafus soleh, semoga Allah merahmati mereka, benar-benar tersentuh hatinya dan terpengaruh dengan Al Qur’an Al-Karim. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Baihaqi dari sahabat Abu Hurairoh, semoga Allah meredhainya, beliau berkata: ”Ketika turun ayat Al Qur’an :
”Maka apakah kamu merasa hairan terhadap pemberitaan ini? Dan kamu mentertawakan dan tidak menangis?” (An-Najm : 59-60)
Ahlus Sufah (para shahabat Nabi yang tinggal di Masjid Nabawi) menangis, berlinang air matanya. Ketika Rasulullah Salallahu alaihi wa sallam mendengarnya, maka beliau pun turut menangis. Kami (para shahabat Nabi) pun menangis kerananya. Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam bersabda: ”Tidak akan disentuh api neraka, orang yang menangis kerana takut kepada Allah”.

(5). TETAP DUDUK DI MASJID SETELAH SOLAT SUBUH BERJAMA’AH SAMPAI TERBIT MATAHARI

Nabi Muhammad Salallahu alaihi wa sallam senantiasa duduk di tempatnya setelah solat subuh sampai terbit matahari. (Hadits Riwayat Imam Muslim)

Nabi Muhammad Salallahu alaihi wa sallam bersabda:
”Ertinya : Barang siapa yang solat subuh berjama’ah lalu tetap duduk setelahnya, berdzikir kepada Allah sampai matahari terbit, lalu dia solat dua raka’at maka dia mendapat pahala seperti pahala haji dan umrah sempurna, sempurna, sempurna” (Hadits Riwayat Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah)

Saudaraku muslim dan muslimah…
Besarnya pahala yang Allah berikan atas amalan tersebut adalah amal yang dilakukan di hari-hari biasa, maka apalagi seandainya amal tersebut dikerjakan di bulan Ramadhan?

Marilah kita solat subuh berjama’ah di masjid, lalu setelahnya membaca dzikir atau wirid sesudah shalat, lalu membaca dzikir pagi dan petang yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam, atau membaca Al-Qur’an Al-Karim sampai terbit matahari, lalu setelah terbit matahari, solat sunat dua raka’at. Sungguh Allah telah menjanjikan pahala yang besar, seperti pahala haji dan umrah!

(6). I’TIKAF

Nabi Muhammad Salallahu alaihi wa sallam senantiasa i’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, dan di tahun terakhir sebelum wafatnya, beliau beri’tikaf selama dua puluh hari terakhir bulan Ramadhan. (Hadits Riwayat Imam Bukhori)

I’tikaf sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan yaitu berdiam diri di masjid, tidak keluar dari masjid sampai malam Aidil Fitri dengan melaksanakan berbagai amal ketaatan kepada Allah seperti solat wajib berjamaah, solat sunat, memperbanyak berdoa, berdzikir, beristighfar, bertaubat, membaca Al-Qur’an Al-Karim dan amal soleh lainnya.

(7). UMRAH DI BULAN RAMADHAN

Umrah di bulan Ramadhan memiliki pahala yang amat besar, bahkan sama dengan pahala haji. Nabi Muhammad Salallahu alaihi wa sallam bersabda:
”Ertinya : Umrah di bulan Ramadhan menyamai haji atau haji bersamaku” (Hadits Riwayat Imam Bukhori)

Tetapi wajib diketahui, meskipun umrah di bulan Ramadhan berpahala menyamai haji, tetapi ia tidak boleh menggugurkan kewajiban haji bagi orang wajib melakukannya.

Demikian pula halnya solat di Masjidil Haram di Mekah dan solat di Masjid Nabawi di Madinah pahalanya dilipatgandakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala .

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan kita untuk dapat umrah di bulan Ramadhan, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

(8). MENCARI LAILATUL QADAR
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

”Ertinya : Sesungguhnya kami Telah menurunkannya (Al Quran) pada Lailatul Qadar (malam kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar” (Al-Qodr: 1-5)

Nabi Muhammad Salallahu alaihi wa sallam bersabda:
”Ertinya : Barang siapa yang mendirikan qiyamu lail pada saat Lailatul Qadar kerana iman dan mengharap pahala Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (Hadits Riwayat Imam Bukhori dan Imam Muslim)

Adapun qiyamu lail yang dimaksud adalah menghidupkan malam tersebut dengan solat tarawih, membaca Al -Qur’an Al-Karim, berdoa, berdzikir, beristighfar dan bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala .

Rasulullah Salallahu alaihi wa sallam senantiasa berusaha kuat untuk mendapatkan malam lailatul qadar. Beliau memerintahkan para shahabatnya untuk mendapatkan malam lailatul qadar. Beliau pun membangunkan keluarganya pada malam-malam sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dengan harapan agar mendapatkan malam lailatul qadar. Malam lailatul qadar terjadi pada suatu malam diantara malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

Ummul Mukminin, Aisyah, semoga Allah meredhainya, pernah bertanya kepada Rasulullah Salallahu alaihi wa sallam : Wahai Rasulullah, bila aku mendapati malam lailatul qadar, doa apakah yang sebaiknya saya baca? Maka Nabi Muhammad Salallahu alaihi wa sallam bersabda: Bacalah
“Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibul al-afwa fa’ fu ‘anniy” :

Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, dan suka untuk memberi ampunan, maka ampunilah aku ” (Hadits Riwayat Imam Ahmad, Tirmidzi dan dishahihkannya)

(9). MEMPERBANYAK DZIKIR, DO’A DAN ISTIGHFAR

Saudaraku muslim dan muslimah…
Siang dan malam hari di bulan Ramadhan adalah waktu yang memiliki keutamaan, maka isilah dengan memperbanyak dzikir, doa, istighfar, khususnya di waktu-waktu tertentu dikabulkannya doa, antara lain yaitu:

(a). Saat berbuka puasa. Bagi orang yang berpuasa ketika berbuka puasa memiliki doa yang tidak akan ditolak oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala

(b). Sepertiga malam yang terakhir, saat Allah Subhanahu Wa Ta’ala turun ke langit dunia.

(c). Beristighfar di waktu sahur. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
”Ertinya : Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar.” (Adz- Dzariyat: 18)

(d). Mencari suatu saat dikabulkannya doa di hari Jumaat, yaitu di suatu waktu antara asar dan maghrib di hari Jumaat.

Saudaraku muslim dan muslimah…
Ada beberapa perbuatan yang harus kita tinggalkan atau jauhi baik di luar Ramadhan, terlebih lagi di bulan Ramadhan, diantaranya:

(1). Menjadikan malam seperti siang dan menjadikan siang seperti malam. Maksudnya di malam hari dihabiskan untuk berjaga sambil bersembang, menonton TV atau perbuatan sia-sia lainnya. Sementara di siang hari dihabiskan untuk tidur.

(2). Tidur di sebahagian waktu solat wajib.

(3). Berlebih-lebihan dalam makanan dan minuman

(4). Terlalu cepat makan sahur, lalu tertidur saat waktu solat subuh sehingga tidak solat subuh berjama’ah di masjid.

(5). Berbohong dan berbuat perbuatan sia-sia

(6). Menyia-nyiakan waktu

(7). Berkumpul bersama teman-teman untuk kegiatan yang sia-sia, mengata,mengumpat, gosip dan semisalnya

(8). Kaum wanita menghabiskan sebahagian besar waktunya untuk memasak makanan.

Saudaraku muslim dan muslimah…

Ketahuilah bahawa hal yang tak kalah pentingnya adalah ikhlas! Betapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan dahaga! Betapa banyak orang yang mendirikan solat terawih tidak mendapatkan apa-apa selain penat dan letih! Kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari hal demikian. Oleh kerana itu Nabi Muhammad Salallahu alaihi wa sallam menekankan dalam banyak sabdanya : ” Dengan keimanan dan mengharap pahala Allah”. Kita mohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menganugerahkan keikhlasan dalam ucapan, amalan kita, baik ketika sendirian maupun bersama orang banyak. Ya Allah, kabulkan permohonan kami ini.

Saudaraku muslim dan muslimah…
Perhatikanlah nikmat usia dan kesihatan yang Allah kurniakan kepada kita! Sungguh umur kita terbatas! Pernakah Anda berfikir, mana orang-orang yang tahun lalu berpuasa Ramadhan bersama kita? Ke manakah orang-orang yang tahun lalu solat tarawih bersama kita? Sebahagian mereka ada yang sudah dijemput oleh malaikat maut! Sebahagian lagi terbaring sakit! Sehingga mereka tidak kuat berpuasa dan solat tarawih. Maka pujilah Allah! Bersyukurlah kepada Allah, wahai Saudaraku!

Berbekalah mulai sekarang juga! Sungguh, sebaik-baik bekal adalah taqwa!

Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kesempatan untuk berpuasa Ramadhan dan mendirikan Qiyamu Ramadhan, dan jadikanlah kami di bulan Ramadhan orang-orang yang diterima amalan-amalannya dan jadikanlah kami di bulan Ramadhan orang-orang yang dibebaskan dari api neraka. Amin.

Semoga selawat dan salam tercurah kepada Nabi Muhammad, keluarganya dan para sahabatnya. Akhir doa kami adalah Alhamdulillahi rabbil ’alamin.
Wassalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu

(Diterjemahkan (dengan penyesuaian) dari buletin ”Risalah Syahri Ramadhan” karya Kholid bin Abdullah Al Hamudiy oleh Bukit Adhinugraha, Bogor 16 Sya’ban 1428 Hijriyah)

Amalan di Bulan Ramadhan Bag. 1

Sebaik-baik amalan di bulan Ramadhan ialah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a:
Sesungguhnya Rasulullah s.a.w bersabda: “Apabila datang bulan Ramadhan, maka tibalah bulan yang memberi berkat, iaitu diwajibkan oleh Allah S.W.T ke atas kami berpuasa sebulan di bulan Ramadhan, dibuka pintu syurga dan ditutup pintu neraka jahannam, diikat syaitan-syaitan di bulan Ramadhan, ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, sesiapa yang memuliakan, maka ia mendapat kemuliaan daripada Allah”.

Oleh itu pada bulan yang mulia ini hendaklah kita sentiasa melakukan sebanyak mungkin amalan kebajikan selagi mampu kerana setiap amalan yang dilakukan pada bulan ini akan dilipatgandakan pahalanya. Antara amalan yang boleh boleh dilakukan pada bulan Ramadhan adalah dengan memperbanyakkan membaca al-Quran secara tadarus berkumpulan atau secara sendirian, berdoa, solat sunat dan terawih secara berjamaah di surau atau di masjid, sedekah dan bersahur. Ini kerana ada sebuah hadis yang menyebut bahawa:

“Orang yang sembahyang pada bulan Ramadhan, setiap kali sujud, akan dikurniakan kepadanya 1700 kebajikan, dan dibinakan rumah di dalam syurga daripada permata. Bagi orang yang berpuasa dan beribadah 70 ribu malaikat akan meminta ampun baginya daripada pagi hingga tenggelam matahari dan dibina sebuah mahligai baginya”.

Selain itu, terdapat juga hadis dari Jabir dari Nabi s.a.w:
“Apabila malam terakhir dari bulan Ramadhan datang, maka menangislah seluruh langit, bumi dan para malaikat, kerana musibah yang akan menimpa umat Muhammad” Rasulullah s.a.w ditanya: “Musibah apakah ya Rasulullah?” Nabi s.a.w menjawab: “Perginya bulan Ramadhan, kerana di dalam bulan Ramadhan itu semua doa-doa dikabulkan, semua sedekah diterima dan semua kebaikan dilipatgandakan pahalanya serta seksa pun dihentikan”. “Apakah ada musibah yang lebih besar daripada perginya bulan Ramadhan?”, “Kalau semua langit dan bumi menangis demi kepentingan kita, maka tentu kita lebih banyak menangis dan lebih menyayangkannya kerana terputusnya segala keutamaan dan kemuliaan”.


Hadis ini menunjukkan bahawa amalan-amalan orang yang berpuasa sentiasa dalam pemerhatian Allah S.W.T. dan barangsiapa yang banyak berdoa dan ikhlas dalam amalannya, nescaya Allah akan memakbulkan doa orang-orang yang bertakwa.
Seterusnya terdapat hadis daripada Abu Hurairah r.a katanya:
“Aku dengar Rasulullah s.a.w bersabda: “Jangan kamu tolak orang yang meminta walaupun dia kafir”, kata seorang sahabat, “Ya Rasulullah! Adakah kami bersedekah dengan sesuatu dari harta kami kepada orang kafir?”, Jawab Nabi: “Mereka juga adalah makhluk Allah. Hakikatnya sedekah itu jatuh pada tangan Tuhan Yang Maha Merahmati”.

Ini menjelaskan bahawa amalan bersedekah ini sangat dimuliakan di sisi Allah walaupun sedekah tersebut dihulurkan kepada orang kafir. Ini kerana yang dinilaikan di sisi Allah ialah keikhlasan hati seseorang dalam menghulurkan hartanya kepada orang lain dan keikhlasannya dalam melaksanakan sesuatu ibadah.

Ianya juga meneladani sifat Ar Rahman dan Ar Rahim di sisi Allah S.W.T, di mana dengan sifat Ar-Rahman iaitu penyayangnya Allah kepada makhluk di syariatkan sedekah yang boleh diluaskan pemberiannya kepada semua makhluk sekalipun kafir. Begitu juga dengan sifat Ar Rahim iaitu Maha Pengasihnya Allah kepada orang-orang yang beriman kepadaNya, dikiaskan dengan perlaksanaan ibadah zakat yang hanya dikhususkan kepada umat Islam memberi dan menerimanya.

Sesungguhnya Islam itu tidak membebankan hambanya. Oleh itu orang yang berpuasa juga digalakkan melakukan amalan bersahur pada pertengahan malam sehingga terbit fajar dan sunat dilewatkan. Ini bagi mengelakkan mereka dari merasa lapar ketika melakukan ibadah puasa pada keesokan harinya.

Dari Zaid bin Thabit berkata: “Kami bersahur bersama Rasulullah s.a.w, lalu kami berdiri untuk menunaikan solat, saya bertanya: “Berapakah jarak antara keduanya?” Ujar Nabi s.a.w: “50 ayat (lebih kurang 15 minit)”.

(Riwayat Bukhari dan Muslim)

أهلا يا رمضان
Ihsan Mimbar Ulama

MARHABAN YA RAMADHAN

.:: Selamat Menunaikan Ibadah Puasa ::.

BAB I'TIKAF DAN IBADAH RAMADHAN

بَابُ اَلِاعْتِكَافِ وَقِيَامِ رَمَضَانِ


Hadits No. 715

َعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا, غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْه

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Barangsiapa melakukan ibadah Ramadhan karena iman dan mengharap ridlo'Nya, maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lewat." Muttafaq Alaihi.



Hadits No. 716

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ اَلْعَشْرُ -أَيْ: اَلْعَشْرُ اَلْأَخِيرُ مِنْ رَمَضَانَ- شَدَّ مِئْزَرَهُ, وَأَحْيَا لَيْلَهُ, وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

'Aisyah Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bila memasuki sepuluh hari -- yakni sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan-- mengencangkan kain sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya. Muttafaq Alaihi.
َ


Hadits No. 717

وَعَنْهَا: ( أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَعْتَكِفُ اَلْعَشْرَ اَلْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ, حَتَّى تَوَفَّاهُ اَللَّهُ, ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْه

Dari 'Aisyah Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam selalu beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan hingga beliau wafat, kemudian istri-istri beliau beri'tikaf sepeninggalnya. Muttafaq Alaihi.
َ


Hadits No. 718

وَعَنْهَا قَالَتْ: ( كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا أَرَادَ أَنْ يَعْتَكِفَ صَلَّى اَلْفَجْرَ, ثُمَّ دَخَلَ مُعْتَكَفَهُ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari 'Aisyah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bila hendak beri'tikaf, beliau sholat Shubuh kemudian masuk ke tempat i'tikafnya. Muttafaq Alaihi.
َ


Hadits No. 719

وَعَنْهَا قَالَتْ: ( إِنْ كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم لَيُدْخِلُ عَلَيَّ رَأْسَهُ -وَهُوَ فِي اَلْمَسْجِدِ- فَأُرَجِّلُهُ, وَكَانَ لَا يَدْخُلُ اَلْبَيْتَ إِلَّا لِحَاجَةٍ, إِذَا كَانَ مُعْتَكِفًا ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ

'Aisyah Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam pernah memasukkan kepalany ke dalam rumah -- beliau di dalam masjid--, lalu aku menyisir rambutnya dan jika beri'tikaf beliau tidak masuk ke rumah, kecuali untuk suatu keperluan. Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut Bukhari.
َ


Hadits No. 720

وَعَنْهَا قَالَتْ: ( اَلسُّنَّةُ عَلَى اَلْمُعْتَكِفِ أَنْ لَا يَعُودَ مَرِيضًا, وَلَا يَشْهَدَ جِنَازَةً, وَلَا يَمَسَّ امْرَأَةً, وَلَا يُبَاشِرَهَا, وَلَا يَخْرُجَ لِحَاجَةٍ, إِلَّا لِمَا لَا بُدَّ لَهُ مِنْهُ, وَلَا اعْتِكَافَ إِلَّا بِصَوْمٍ وَلَا اعْتِكَافَ إِلَّا فِي مَسْجِدٍ جَامِعٍ ) رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ, وَلَا بَأْسَ بِرِجَالِهِ, إِلَّا أَنَّ اَلرَّاجِحَ وَقْفُ آخِرِهِ

'Aisyah Radliyallaahu 'anhu berkata: Disunatkan bagi orang yang beri'tikaf untuk tidak menjenguk orang sakit, tidak melawat jenazah, tidak menyentuh perempuan dan tidak juga menciumnya, tidak keluar masjid untuk suatu keperluan kecuali keperluan yang sangat mendesak, tidak boleh i'tikaf kecuali dengan shaum, dan tidak boleh i'tikaf kecuali di masjid jami'. Riwayat Abu Dawud. Menurut pendapat yang kuat hadits ini mauquf akhirnya.
َ


Hadits No. 721

وَعَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( لَيْسَ عَلَى اَلْمُعْتَكِفِ صِيَامٌ إِلَّا أَنْ يَجْعَلَهُ عَلَى نَفْسِهِ ) رَوَاهُ اَلدَّارَقُطْنِيُّ وَالْحَاكِمُ, وَالرَّاجِحُ وَقْفُهُ أَيْضًا

Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Tidak ada kewajiban shaum bagi orang yang i'tikaf, kecuali ia mewajibkan atas dirinya sendiri." Riwayat Daruquthni dan Hakim. hadits mauquf menurut pendapat yang kuat.
َ


Hadits No. 722

وَعَنْ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا: ( أَنَّ رِجَالاً مِنْ أَصْحَابِ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أُرُوا لَيْلَةَ اَلْقَدْرِ فِي اَلْمَنَامِ, فِي اَلسَّبْعِ اَلْأَوَاخِرِ, فَقَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَرَى رُؤْيَاكُمْ قَدْ تَوَاطَأَتْ فِي اَلسَّبْعِ اَلْأَوَاخِرِ, فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيَهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِي اَلسَّبْعِ اَلْأَوَاخِرِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Ibnu Umar Radliyallaahu 'anhu bahwa beberapa shahabat Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam melihat lailatul qadr dalam mimpi tujuh malam terakhir, maka Rasulallah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, Aku telah ditunjukkan kebenaran tentang mimpimu pada tujuh malam yang terakhir, maka barangsiapa ingin mencarinya hendaknya ia mencari pada tujuh malam terakhir." Muttafaq Alaihi.
َ


Hadits No. 723

وَعَنْ مُعَاوِيَةَ بْنَ أَبِي سُفْيَانَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا, عَنْ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ: ( لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ ) رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ, وَالرَّاجِحُ وَقْفُهُ. وَقَدْ اِخْتُلِفَ فِي تَعْيِينِهَا عَلَى أَرْبَعِينَ قَوْلًا أَوْرَدْتُهَا فِي فَتْحِ اَلْبَارِي

Dari Muawiyah Ibnu Abu Sufyan Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda tentang lailatul qadar: "Malam dua puluh tujuh." Riwayat Abu Dawud dan menurut pendapat yang kuat ia adalah mauquf. ada 40 pendapat yang berselisih tentang penetapannya yang saya paparkan dalam kitab Fathul Bari.
َ


Hadits No. 724

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( قُلْتُ يَا رَسُولَ اَللَّهِ : أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَيَّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ اَلْقَدْرِ, مَا أَقُولُ فِيهَا? قَالَ: قُولِي: اَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ اَلْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي " ) رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ, غَيْرَ أَبِي دَاوُدَ, وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَالْحَاكِمُ

Dari 'Aisyah Radliyallaahu 'anhu bahwa dia bertanya: Wahai Rasulullah, bagaimana jika aku tahu suatu malam dari lailatul qadr, apa yang harus aku baca pada malam tersebut? Beliau bersabda: "bacalah (artinya: Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Engkau menyukai ampunan, maka ampunilah aku)." Riwayat Imam Lima selain Abu Dawud. Hadits shahih menurut Tirmidzi dan Hakim.
َ


Hadits No. 725

وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ اَلْخُدْرِيِّ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم : ( لَا تُشَدُّ اَلرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ: اَلْمَسْجِدِ اَلْحَرَامِ, وَمَسْجِدِي هَذَا, وَالْمَسْجِدِ اَلْأَقْصَى ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Abu Said Al-Khudry Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Tidak ada perjalanan kecuali ke tiga masjid, yaitu Masjidil Haram, Masjidku ini, dan Masjidil Aqsho." Muttafaq Alaihi.
َ
Bulughul Maram versi 2.0 © 1429 H / 2008 M Oleh : Pustaka Al-Hidayah